ISO 9001:2008 sudah dirilis atau dipublikasikan sejak November 2008 untuk mengganti, atau lebih tepatnya menyempurnakan ISO 9001:2000.
Apa konsekuensinya bagi User, dalam hal ini adalah organisasi yg baru akan mengajukan sertifikasi ISO 9001, sedang dalam proses, maupun organisasi yang sudah mendapat sertifikat ISO 9001:2000?
OK. Saya akan bahas satu per satu.
Bagi organisasi yang sedang akan mengajukan sertifikasi, tentu saja sebaiknya langsung mengacu atau menggunakan System Manajemen Mutu ISO 9001:2008. Karena apa? Karena sertifikat ISO 9001:2000 hanya akan valid atau berlaku hingga akhir 2010.
Memang hingga akhir 2009, tepatnya bln November, sertifikasi ISO 9001:2000 masih bisa diberikan. Tapi apa gunanya kalau hanya berlaku satu tahun? Belum lagi kalau hingga akhir 2009 belum berhasil memperoleh sertifikasi. Justru hanya membuang-buang waktu, biaya, dan megulang-ulang perkerjaan, kan?
Bagi organisasi yang sedang dalam proses pengajuan sertifikasi,....
ISO 9001:2000. Sertifikat ISO 9001:2000 pada Mocin dipertanyakan.
Dalam rubrik surat pembaca sebuah koran, ada pertanyaan yang cukup menggelitik. Pertanyaannya begini: "Mengapa sepeda motor China (Mocin) baru yg belum lama ini saya beli sudah rusak. Padahal Mocin tsb sudah mendapat sertifikat ISO 9001:2000? Apa artinya sertifikat ISO tsb kalau ternyata kualitas produknya tidak bagus?"
"Pertanyaan yg super". Mario Teguh pasti akan berkata begitu kalau saja pertanyaan ini diajukan padanya. Sayangnya saya bukan Mario Teguh yg lemah lembut, penyabar dan suka memotivasi.
Maka, kalau saya yg ditanya, saya (sambil membentak-bentak, karena saya seorang manajer, seperti manajer-manajer lainnya di "negeri bermutu" sana, he, he...) pasti akan jawab begini:
"Kamu ini sudah ngerti ISO 9001:2000 belum.. Sudah pernah belajar ISO 9001:2000, belum..??!!." Kalau jawabnya, "Belum, Pak..." Maka, pasti saya akan langsung nyerocos begini,
"Makanya jadi orang itu suka membaca. Suka belajar. Bukankah ada nasihat bijak "Belajarlah sampai ke negeri China". Jangan ke China hanya untuk baca komik Kho Ping Ho saja (ech..., ngomong-ngomong Kho Ping Ho, tuh.. komik China, gak, sech..?!) . Atau ke China malah untuk menyembunyikan uang hasil korupsi (sorry, lho, pada para koruptor, he, he...canda, nech...!!). Belajar ISO 9001:2000, dong..! Kalo mau canggih lagi, belajar ISO 9001:2008, dong..!! Biar gak GAPSO, alias gagap ISO, gak tahu ISO 9001:2000 sama sekali... Huh, parah, eh.. payah..!! "
Bagi Anda yang tertarik untuk sharing atau berdiskusi, atau bertanya segala sesuatu tentang System Manajemen Mutu, baik ISO 19001:2000 atau ISO 9001:2008, Total Quality Management, ISO 14001:2004, dsb. Silakan klik link ini. Saya ada di sana. Di http://www.quality-forum.blogspot.com
Apakah hubungan kamu dengan istri saat ini baik-baik saja? Tidak pernah atau jarang terjadi pertengkaran, percekcokan? Atau mungkin bahkan KDRT alias Kekerasan Dalam Rumah Tangga? Kalau semua baik-baik saja, harmonis, syukurlah. Saya ucapkan selamat.
Tetapi, kalau hubungannya kurang harmonis, dan kamu ingin memperbaikinya, barangkali pengalaman saya ini bisa bermanfaat. Kalau kebetulan Anda adalah seorang istri, barangkali ini juga bermanfaat untuk kamu karena kamu bisa melihat atau mencoba memahami permasalahan dari sisi suami.
Atau mungkin suatu saat kamu punya teman yg mengalami permasalahan serupa, ”kasus” saya ini bisa dipakai untuk ”menasihati” atau sharing dengannya. Dengan begitu, Anda bisa menjadi teman atau bahkan sahabat yg baik. Saya telah membuktikan, ketika ”kasus” atau tips saya ini saya berikan ke teman yg mengalami masalah seperti ini, hubungan teman saya tadi dengan istrinya sekarang juga kelihatan lebih baik. Dan usahanya juga menjadi makin lancar.
Perlu kamu ketahui, saat ini hubungan saya dengan istri 99.99% harmonis. Tidak pernah lagi terjadi pertengkaran, meskipun ”perbedaan” itu tetap saja ada. Saya dan istri juga menjadi lebih bahagia. Ini berbeda 180 derajat dengan suasana sebelum saya menerapkan tips yang akan saya ungkapkan dalam artikel ini.
Dari Mana Sumber Inspirasi itu?
Sebelum menjawab, ini ada sedikit cerita. Fakta. Pernah suatu saat, ada keluarga yang baru sekali itu saya kenal, dan setelah berbicara, berdiskusi, atau sharing sekitar ½ jam, perempuannya mengatakan: ”Pak Stanley ini, koq, begitu bijaksana, ya, Pak? Mbok, kaya’ Pak Stanely ini, lho, Pak!” katanya mulai membandingkan saya dengan suaminya. Saya jadi tersanjung, tapi juga merasa tidak enak dengan suaminya, sehingga saya cepat-cepat ”menetralisir” suasana. (He..he.. saya jadi terlalu GR, nich...! Atau malah sombong, kali, ya?)
Mungkin kamu bertanya, dari mana, sich, sumber inspirasi yang kemudian mendatangkan keharmonisan hubungan suami istri ini? Atau kenapa, sich, koq saya bisa berubah begitu total menjadi orang yang ”bijaksana” dan sukses merubah ”watak” istri?
Baiklah. Jawaban saya adalah: Semua itu berawal dari....
Kita tahu, kan, sebagus apapun isi sebuah artikel (posting) di Blog kita, tetapi kalau orang tidak mau membacanya, tentunya sia-sia saja kita sudah susah payah mengarang, lalu menampilkan artikel tsb. Bahkan, mungkin juga menghabiskan banyak uang. Iya, kan?
Kita tentu pengin artikel kita dibaca banyak orang, dan mereka juga mau menanggapi artikel kita, sehingga Blog kita jadi ”ramai” (ujung-ujungnya bisa menghasilkan banyak uang, he..he..). Masalahnya, bagi kebanyakan orang, menulis artikel itu tidak semudah ngomong.
Contohnya, anggota DPR kita itu jumlahnya ratusan, bahkan ribuan kalau termasuk DPRD I dan DPRD II. Tapi, coba saja lihat. Berapa banyak dari mereka yg ”bisa” nulis artikel di koran. Bahkan nulis di blog aja mungkin tidak bisa kali, ya? (Bukan ngeremehin Blog, lho... Tapi nge-blog kan tidak ada yg berhak meng-edit artikel kita, kan? Jadi pasti ”dimuat”). Padahal, kalau berbicara, apalagi kalau sedang menyerang lawan politiknya. (Mereka tidak kalah hebat dari Barack Obama satu Sarah Palin, kali, ya?Sorry, udah ngelantur, nech..!!)
Ini pengalaman menarik saya. Saya sudah sering mengirim artikel (bukan Surat Pembaca) ke beberapa koran daerah di Semarang. Semuanya ditolak. Baru pada tgl 12 November 2008 artikel saya dimuat di Suara Merdeka pada rubrik Wacana Lokal, sehingga aku bisa menghasilkan uang. Jumlahnya lumayan, lho.
”Sukses” ini tidak lepas dari ”keberhasilan” saya menerapkan teknik menulis artikel yg ”menghipnotis”, yg saya dapat dari buku, e-book, dan pelatihan jurnalistik.
Kembali ke soal nulis artikel. Sebenarnya, menulis artikel yg ”menghipnotis”, dalam arti orang yg membaca tidak mau berhenti membaca kalau belum selesai, itu tidak terlalu susah, koq. Yang penting tahu teknik-tekniknya.
Kalau kamu pengin yang gratisan, ya, ikuti saja artikel ini sampai tuntas. Lalu praktekkan. Saya tidak semata-mata menyadur dari kedua sumber tersebut, tetapi saya sarikan dari banyak sumber, termasuk ”ilmu” yang saya dapat dari pelatihan-pelatihan jurnalisme. (Dijamin simple dan ”manjur”. Jadi, saya baik hati, kan? He..he...).
Ini dia tipsnya.
SEMUA BERAWAL DARI JUDUL YG MENGHIPNOTIS.
(Saya penginnya terus nulis. Tapi, sudah ngantuk, nich. Habis, tadi malem nonton Milan Vs Fiorentina sampai tuntas. Jadi saya sambung lain kali, ya...??? Janji, dech!!!)
Kita memasang Google Adsensedi Blog atau situs kita tentunya untuk menghasilkan uang, bukan? Dan uang itu akan datang kalau iklan di Google Adsense kita di-klik orang.
Tetapi bagaimana orang mau meng-klik Adsense kita kalau yang muncul di Adsense kita adalah Iklan Layanan Masyarakat. Beda halnya kalau Adsense menampilkan produk, apalagi kalau tampilannya juga bagus karena berupa gambar (wanita cantik? he..he..). Baik gambar berhenti (statis), apalagi gambar bergerak, tentu orang akan lebih tertarik untuk meng-klik.
Nah, bagi kamu yg Adsense-nya sudah di-Approved, tapi masih sering menampilkan Iklan Layanan Masyarakat, tahukah kamu bahwa sebenarnya tampilan Adsense tsb bisa kita atur ”sesuai kehendak kita”, yakni langsung menampilkan produk? Kalau belum tahu, berikut ini akan saya berikan tips-nya. Aku baik hati, kan? Tapi jangan lupa, lho, kasih tips-nya ( Baca: uangnya. He he.., nggak segitu matre-nya, dech!).
Selain langsung menampilkan produk, Adsense juga bisa kita atur untuk menampilkan iklan gambar, teks, atau hanya teks plus links, atau links saja. Ukurannya juga bisa kita pilih. Caranya:
Rasanya seperti mimpi melihat perubahan yg begitu besar dalam diri temanku. Dia yg dulunya begitu emosional, pemarah, bahkan kalau marah-marah kepada istrinya semua orang di sekitar rumah mendengar, kini dia menjadi orang yang sangat penyabar dan tidak pernah marah-marah lagi kepada istrinya.
Hebatnya lagi, entah ada kaitannya atau tidak, faktanya kini bisnis kelontongnya makin sukses. Semua itu tidak lepas dari “nasihat”-ku kepada temanku itu setelah aku sendiri berubah gara-gara membaca buku “The Quantum Happiness” karya Deepak Chopra dan Vikas Malkani.
Ceritanya begini.
Suatu pagi, ketika aku sedang bersih-bersih mobil, temanku mendatangiku. Setelah ngobrol ke sana-ke mari, sampailah pada suatu “episode” dimana dia menceritakan kenapa dia suka marah-marah pada istri, padahal sebenarnya dia malu juga, karena sampai didengar tetangga.
“Saya seringkali jengkel sama istri, Masalahnya, dalam banyak hal dia itu tidak sesuai dengan kehendakku”, kata temanku tadi (sebut saja Mr. X) dengan sangat serius.
“Misalnya, dalam masalah anak. Seringkali istriku itu menuruti kemauan anak. Terlalu longgar. Sementara saya tidak mau seperti itu, karena anak bisa jadi pemalas, hanya suka main, tidak mau belajar, dsb”, Mr. X menambahi dengan nada mulai meninggi..
“Kalau sudah begitu, biasanya saya marahi istri saya. Celakanya, istri saya juga tidak mau kalah. Jadinya terus ramai”, imbuhnya. “Tapi, istriku juga tidak kehilangan akal. Karena tahu kalau di pasar saya tidak mau marah-marah, maka kalau lagi di pasar dia berbuat semaunya. Misalnya, dia membeli barang yg seharusnya tidak perlu dibeli. Baru setelah sampai di rumah, aku marahi habis-habisan. Jadinya, ya, bertengkar lagi. Begitu terus. Berulang-ulang. Jadinya rumah saya seperti neraka!” imbuhnya bersemangat.
“Kalau sudah marah-marah, apakah masalah jadi selesai? Istri lalu menjadi penurut? Dan, apakah Bapak merasa puas, atau justru Bapak merasa kelelahan dan pikiran jadi kacau? Atau mungkin kesehatan menjadi terganggu, misalnya kepala menjadi pusing-pusing?” aku menanggapi.
“Ya, memang puas kalau sudah marah-marah, karena bisa mengeluarkan perasaan jengkel. Tetapi masalah memang tidak selesai. Istri juga makin jadi “pemberani”. Biasanya kepalaku terus jadi pusing, Pak” keluhnya.
“Mr. X”, kataku mencoba menasihati tanpa harus menjadi seperti seorang penasihat. Atau lebih tepatnya disebut sharin”. “Sebelumnya saya juga seperti Bapak ini. Bahkan mungkin lebih parah, sebab kalau lagi marah-marah saya kadang sambil memukul atau menendang daun pintu kamar”, kataku berusaha meyakinkan bahwa “kita senasib”.
Aku mendapat cerita yang sangat inspiratif sekali dari temanku yang memimpin apel pagi di kantor. Temanku ini nama panggilannya Rahman, karyawan bagian Marketing yg suka sekali membaca buku-buku motivasi dan juga pernah beberapa kali mengikuti seminar motivasi. Maka pantas kalau pagi ini dia memotivasi kami, peserta apel yg berjumlah sekitar 20 orang, dengan kisah yg sangat bagus dan memotivasi, meskipun dia tidak menyebutkan dari mana sumbernya.
Ceritanya tentang seorang tukang kayu yang sudah lama bekerja pada majikannya. Dia selama ini bekerja dengan penuh dedikasi, loyalitas dan prestasi. Dia bekerja dengan sempurna. Rancangan bangunannya selalu terukur, presisi, sehingga selalu menghasilkan hasil karya yg sempurna.
Kini Si Tukang Kayu merasa sudah terlalu lama dan terlalu tua untuk terus bekerja pada majikannya. Apalagi dia juga merasa bahwa penghargaan yang diberikan majikannya selama ini tidak setimpal dengan prestasinya. Perasaan itu selama ini dipendam dalam hatinya, meskipun pada akhirnya dia tidak tahan juga. Maka dia pun memberanikan diri untuk mengajukan pengunduran diri.
”Majikan,” kata Si Tukang Kayu membuka pembicaraan ”Dengan segala kerendahan hati hari ini saya mengajukan pengunduran diri, karena saya sudah terlalu tua,” imbuhnya.
”Ya, saya tahu.” kata Sang Majikan. ”Meskipun saya sebenarnya masih sangat membutuhkan kamu, tetapi kalau itu sudah jadi pilihanmu, aku tidak bisa berbuat apa-apa,” kata Si Majikan.
”Tapi, aku ada permintaan sekali lagi. Untuk terakhir kalinya. Saya harap kamu tidak menolak”, pinta Si Majikan.
SELENGKAPNYA (dan kisah yang memotivasi atau True Storylainnya) klik di link berikut:
Pak Li segera menghampiri istrinya yang baru saja keluar dari Ruang Psikolog paling kondang di kotanya. Pasalnya istrinya bukannya nampak lebih riang, tetapi justru kelihatan makin sedih. Padahal psikolog itu adalah teman dekat Pak Li yang reputasinya sudah tidak diragukan lagi dalam menyembuhkan pasien yang stress berat sekalipun.
Selain tampangnya yg ganteng, psikolog itu terkenal ramah dan tidak terlalu mahal biaya konsultasinya. Maka Pak Li berpikir bahwa keputusannya membawa istrinya yang akhir-akhir ini selalu murung, padahal sebentar lagi melahirkan itu sudah tepat.
“Ada apa, sich, Mah? Kenapa nampaknya makin tertekan pikiranmu. Sebentar lagi kamu harus melahirkan, lho. Jangan sampai anak kita nanti lahir cacat atau kamu sendiri nanti malah bisa-bisa melahirkan dengan susah payah,” kata Pak Li menghibur dan sedikit khawatir. Maklum sudah puluhan tahun sejak menikah mereka belum dikaruniai anak. Jadi Pak Li tidak ingin terjadi apa-apa dengan anak dan istri yg dicintainya nanti.
”Ayo katakan. Ada apa. Jangan sedih terus, ya?” pinta Pak Li lagi.
”Aku takut, pa!” kata Bu Li buka suara.
”Takut apa? Tidak usah takut! Wanita melahirkan itu memang sudah lazimnya. Justru sebaliknya, kamu harus tegar agar proses kelahirannya nanti sempurna. Ya, Ma?” Pak Li menasihati dengan penuh kesabaran.
”Ini anak pertama kita yg sudah lama kita tunggu-tunggu, Ma. Usaha kita selama puluhan tahun untuk bisa punya anak sebentar lagi terwujud. Mari kita sambut dengan suka cita, ya? Jangan takut. Kita berdoa semoga kamu dan anak kita nanti lahir sempurna. Kalau anak kita laki-laki, nanti ganteng seperti saya. Kalau perempuan, ia cantik seperti kamu. Ya, Mah!” imbuhnya.
”Bukan itu yg membuat aku takut, Pa” kata Bu Li.
”Ya... ya..! Aku tahu. Kita memang sedang tidak punya uang, karena seluruh uang dan tabungan kita kamu habiskan untuk bisnis investasi gelap yang akhirnya ditutup polisi karena investornya kabur itu, kan? Sudahlah. Jangan dipikirkan lagi. Uang bisa dicari,” hibur Pak Li lagi.
”Ya. Psikolog teman papa tadi juga menasihati aku seperti itu.” Sahut Bu Li.
”Ya, memang harus begitu. Kalau gitu, aku juga bisa jadi psikolog, dong...!” kata Pak Li bercanda. Tapi Bu Li tetap saja nampak sedih dan stress. Bahkan beberapa saat membisu seribu basa.
Setelah cukup lama berdiam diri dalam kesedihan dan ketakutan, Bu Li pun akhirnya berterus terang tentang ketakutannya: ”Ya, Pa. Tentang uang itu aku sudah tidak takut lagi. Masalahnya, tadi Pak Psikolog juga menasihati aku untuk tidak takut mengatakan yang sejujurnya kepada Papa, kalau anak yang aku kandung ini adalah anak hasil perselingkuhanku dengan dia..!?”
Pak Li: ”Ha...!!#**?? Jad.... di....!!#**@????” Kali ini Pak Li yg stress berat.
Judul Buku: Motivate to WinEdisi III. Penulis:Richard Denny - Penulis “Selling to Win” Saya dulu berpikir, bahwa motivasi itu ibarat orang sunat atau orang dibaptis. Sekali seumur hidup. Artinya, sekali membaca buku motivasi, maka selamanya kita akan termotivasi, memiliki semangat hidup yang terus menyala-nyala dan tidak akan pernah loyo lagi. Tetapi kenyataannya tidak seperti itu. Lingkungan yang ”negatif”, tantangan yang terlalu kuat, serta pekerjaan rutin, ternyata membuat usaha meraih sukses menjadi pudar.
Ketika suatu saat, di awal tahun 2009, saya pergi ke TB. Gramedia - Jl. Pandanaran, Semarang, dan saya kemudian membeli dan membaca buku ini, saya menjadi sadar bahwa motivasi bukanlah sekali jadi. Atau sekali tanam dan seterusnya bertumbuh dan berbuah.
Motivasi ternyata seperti baterai yang harus di-charge dengan cara yg benar dan pada saat yang tepat, pada saat dibutuhkan. Mungkin baru saja di-charge penuh, tetapi karena langsung dipakai lama, maka dalam sekejap baterai cepat habis. Atau mungkin bertahan sampai beberapa hari atau bahkan minggu karena jarang dipakai.
Buku ini telah membuat saya memahami bagaimana memotivasi diri dan anak buah saya dan bagaimana mempertahankannya supaya tetap ”awet” termotivasi sehingga produktivitas kerja bisa terjaga. Kadang kita melihat, perusahaan mengadakan ”tantangan” dengan imbalan hadiah dengan tujuan memotivasi karyawan, tetapi ternyata yang didapat sebaliknya. Hanya beberapa gelintir orang yg termotivasi, sementara puluhan bahkan ratusan karyawan lainnya mengalami dismotivasi.
Kita bisa sadar akan kekeliruan ini dan kita akan bisa meluruskannya jika kita membaca buku ini.Ada pengalaman menarik. Setelah membaca buku ini, saya menjadi...
Saat itu sekitar th 1992. Suatu ketika, di kegelapan malam (sebenarnya belum malam betul, karena baru sekitar jam setengah tujuh malam) ketika hendak berangkat ke gereja untuk mengikuti misa kudus, saya tiba-tiba dihadang oleh lebih dari sepuluh orang.
Ketika baru melangkahkan kaki sekitar 15 meter dari pintu depan rumahku, tiba-tiba belasan orang keluar dari kegelapan dan dengan sangat cepat mereka sudah mengepung saya. Seingat saya, saat itu orang yg di belakang saya menempelkan sebuah benda tajam di punggung saya. Dan kebanyakan dari mulut mereka tercium aroma minuman keras.
“Hai..!! Kamu Trisno, ya?!” orang yang di depan saya menggertak saya.
Aku sangat kaget, karena tidak mengira akan terjadi situasi seperti itu. Apalagi sebelumnya juga tidak pernah ada kabar minor di kampung saya. Dan saya juga baru kali ini mengalami kejadian ”kekerasan” seperti ini.
”Ya. Ada apa?”, saya menjawab dengan panik dan ketakutan.
”Jangan pura-pura tidak tahu, ya...! Kamu, kan, yg telah menggerakkan pemuda di sini untuk mengganggu kami?!” kata orang itu makin keras.
”Sebentar...” saya berusaha menjelaskan, tetapi mereka langsung memotong pembicaraan saya.
”Sudahlah, jangan banyak alasan!!” yang lain menimpali.
”Jangan macam-macam, ya, kami tidak takut mati di sini...!” yg satunya lagi juga langsung menggertak penuh emosi seperti segerombolan macan yg siap memakan seekor kelinci yang sudah terkepung.
Dalam keadaan seperti itu saya hanya bisa pasrah. Saya mencoba untuk tetap tenang. Saya pun lalu dalam hati memohon perlindungan kepada Tuhan.
“Ya Tuhan. Tolonglah saya. Bunda Maria, doakan saya dan bantu saya mengatasi situasi ini. Tuhan kalau Engkau menghendaki lain, terjadilah menurut kehendakMu”.
Hanya itulah doa spontan yg bisa aku ungkapkan dalam hati. Dan saya terus berusaha untuk tetap tenang. Saya menghela napas panjang. Dan entahlah setelah itu tiba-tiba saya teringat bahwa saya memiliki ilmu bela diri Merpati Suci.
Dalam bela diri ini, kita bisa mengatasi belasan orang selama kita tetap tenang dan bisa mengendalikan emosi. Saat itulah muncul keyakinan dalam diri saya, bahwa saya bisa mengatasi situasi ini. Maka, saya pun kemudian bisa sedikit tenang.
Saat itulah kemudian timbul ide bahwa saya tidak boleh -dalam istilah Jawa- “sekecap adu sekecap”. Saya harus mendengarkan mereka. Maka kemudian saya biarkan setiap orang bicara sampai selesai. Dan ketika sudah ada waktu jeda, saya pun berusaha menjelaskan.
”Begini, lho..!!”
”Ah sudah.! Jangan banyak ngomong. Kamu, kan ketua pemuda di sini? Iya, kan?!!” Saya baru bicara satu kata yang satunya lagi sudah menimpali. Saya pun lalu diam lagi. Dan ketika ada waktu jeda cukup saya mulai bicara. Saya berusaha lebih merendah.
”Mas, saya ini ketua Mudika. Muda-mudi Katholik. Bukan Ketua Pemuda”.
”Jadi benar, kan, kamu ketuanya...!!” Yang satu menggertak lagi.
Tetapi kemudian saya bersyukur bahwa satu di antara mereka kelihatannya mengerti perbedaan ketua mudika dan ketua pemuda. Pemuda yang tahu ini pun kemudian menyela gertakan temannya itu.
”Sebentar. Dia ini, kan, hanya ketua mudika. Bukan ketua pemuda. Jadi mungkin dia tidak bersalah” katanya sambil melerai teman-temannya.
Suasana pun menjadi lebih kondusif dan menguntungkan saya. Kelihatannya mereka sudah mulai menurun tensinya. Saat itulah saya kemudian berusaha menjelaskan dengan lebih panjang.
”Saya ketua Mudika. Muda-mudi Katholik. Bukan ketua pemuda. Ketua Mudika dan Ketua Pemuda itu beda, Mas. Kalau ketua pemuda yang Anda cari, bukan saya orangnya”, jawabku.
”Kalau ada permasalahan dan perlu bantuan saya, silakan ungkapkan. Saya akan bantu semampu saya lain waktu, karena saat ini saya harus ke gereja sebelum terlambat” kataku.
”Tidak, Mas. Terima kasih”. Kata orang yang melerai teman-temannya tadi sambil kemudian menjelaskan kepada teman-temannya dalam bahasa mereka yang saya tidak paham.
Dan sesaat kemudian dia justru mengawali minta maaf dan memeluk saya diikuti teman-temannya, bahkan kami pun kemudian pergi ke gereja bersama-sama dan melupakan permasalahan yang sangat menegangkan tadi.
True Story. "Berkat Doa Bapak Sembuh dari Sakit Jantung."
Semua orang mungkin ingin terbebas dari masalah keuangan. Dalam arti ingin memiliki uang sebanyak-banyaknya, sehingga setiap kebutuhan hidup yg terkait uang bisa dipenuhi. Termasuk kebutuhan untuk berobat atau membantu orang tua berobat. Tapi, masalahnya sebagian besar orang belum tentu bisa berkelimpahan uang seperti Robert T. Kiyosaki, Tung Desem Waringin, Bill Gates. Sebagian besar adalah kebalikan dari mereka itu. Termasuk saya.
Bagaimana jadinya kalau tiba-tiba orang tua yang kita cintai sakit keras dan butuh banyak uang sementara kita hanya punya sedikit. Apa yg harus kita lakukan? Kejadian inilah yang pernah saya alami. Meskipun saya dan famili saya yang lain tidak memiliki banyak uang, tetapi akhirnya Bapak saya sembuh juga. Mudah-mudahan kisah ini bisa sedikit membantu Anda, jika Anda kebetulan mengalami situasi serupa, meskipun barangkali kejadiannya berbeda.
&&&
”Mas, ini resep terakhir yg bisa saya berikan untuk sakit jantung Bapak. Jika dengan obat ini Bapak masih merasakan sakit, maka harus segera dibawa ke rumah sakit untuk operasi. Untuk itu, saya akan buatkan surat rujukannya sekalian”, kata dokter sambil memberikan surat rujukan kepada saya.
Meskipun dokter mengucapkan kata-kata itu dengan sangat lembut dan sabar, tetapi kata-kata dokter spesialis penyakit dalam ini membuat hatiku hancur bagaikan gelas kriltal jatuh ke lantai keramik. Dengan pikiran kacau aku meninggalkan tempat praktek dokter malam itu.
Aku bingung harus bagaimana menyampaikan berita ini kepada ibu dan saudara-saudaraku. Apalagi kepada Bapak yg harus menanggung sakit karena ketidak-mampuan kami membawanya berobat ke rumah sakit lagi. Apalagi untuk membayar biaya operasi jantung. Itu tidak mungkin.
Tanpa aku sadari air mata membanjiri pipiku dalam perjalanan pulang malam itu. Aku sangat sedih. Bahkan aku memaki diriku sendiri, kenapa aku tidak mampu membawa Bapak untuk melakukan operasi. Aku bingung dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Meski begitu Aku mencoba untuk bisa tenang, karena aku sedang naik sepeda motor menuju rumah Bapak. Tapi perasaan bersalah ini tidak bisa hilang. ”Apakah semua ini terjadi karena dosa-dosaku dan Bapak yang harus menanggungnya?” pikirku.
Di tengah kegalauan itu aku pun memutuskan untuk tidak pulang dulu. ”Aku harus mengakui segala dosaku kepada Tuhan dan memohon ampun. Aku harus melakukan pengakuan dosa. Aku tahu ini sangat berat karena sudah bertahun-tahun aku tidak melakukan hal ini lagi.
Tapi ini harus aku lakukan. Mungkin dengan begitu aku baru layak berdoa memohon kesembuhan untuk Bapakku.” pikirku. Maka akupun memberanikan diri untuk langsung menuju ke gereja. Aku harus bertemu Romo. Harus.
Sepuluh menit perjalanan aku sudah sampai di gereja. Aku ketuk pintu Pasturan. Dan seorang pemuda membukakan pintu.
”Ada apa, Mas. Bisa saya bantu?” sapa pemuda itu dengan ramah.
”Mau sowan Romo Gondo Mas. Apa beliau ada?” jawabku. ”
”Maaf Mas. Romo sedang ke Kudus. Pulangnya sekitar jam sembilan malam nanti. Mau menunggu atau mau titip pesan nanti saya sampaikan?” ujarnya.
”Terima kasih, Mas. Aku pulang dulu saja. Lain kali saja saya ke sini lagi”, jawabku.
Aku sedikit kecewa karena tidak bisa bertemu romo. Namun demikian, aku merasa beban yang ada dalam hati dan pikiranku sedikit berkurang. Aku pun lalu pulang. Tapi aku tidak langsung menuju rumah Bapak untuk memberikan obat separoh resep yg kubawa. Apalagi langsung memberitahukan tentang resep terakhir dan surat rujukan dari dokter. Aku tidak mau Bapak mendengar hal ini saat ini. Maka apu pun menuju rumah kakak di sebelah rumah Bapak. Kebetulan kakak ada di rumah.
”Kak, tolong kita kumpul dulu. Mbak Nanik (kakak ipar saya), Ning (adik kandung) dan Priyadi (adik ipar) juga tolong disuruh ke sini dulu. Ini ada berita penting dari dokter.” kataku dengan mencoba untuk tetap tenang. Dan ketika sesaat kemudian semua sudah kumpul akupun sampaikan ke mereka kabar dari dokter.
”Ini saya membawa obat separoh resep dari dokter. Dan juga surat rujukan bila obat ini sudah tidak punya efek lagi buat Bapak.” Aku terus mencoba untuk tetap tenang. Tetapi tetap saja air mata ini tidak bisa membohongi perasaanku.
”Memangnya kenapa, Dik? Kenapa harus ada surat rujukan segala?” tanya kakak iparku tidak sabar.
”Mbak. Dokter sudah pasrah. Satu-satunya jalan untuk menyembuhkan Bapak adalah dengan operasi. Dan dokter bilang biayanya sekitar seratus juta rupiah. Bila sewaktu-waktu Bapak sudah tidak tahan lagi, Bapak harus dibawa ke rumah sakit untuk operasi. Surat itu sebagai rujukannya”. Aku menjelaskan dengan terbata-bata. Semua terdiam. Semua menyadari kalau kami tidak mungkin bisa lagi membawa Bapak ke rumah sakit. Apalagi harus operasi dengan biaya begitu besarnya.
”Jadi, kita harus siap menerima apapun yg akan terjadi. Termasuk bila Bapak harus meninggalkan kita”, aku berkata memecah kesunyian. Kata-kata yg semestinya tidak perlu aku ucapkan, karena mereka pasti juga sudah tahu hal itu.
”Satu-satunya jalan hanyalah berdoa memohon kesembuhan”, kakak laki-lakiku mencoba menenangkan.
”Sementara itu kita akan cari pengobatan alternatif yang biayanya lebih murah”, adik iparku menimpali.
”Ya sudah. Ayo kita kasihkan obatnya ke Bapak. Tapi sebaiknya kita jangan beritahukan dulu tentang surat rujukannya. Aku bawa dulu saja,” kataku. Maka kami pun mendatangi Bapak yg tengah terbaring tak berdaya. Bahkan untuk bangkit dari tidurnya pun tidak mampu.
”Mana, Tris, obatnya?”, tanya Bapakku sambil menahan rasa sakit.
Use coupon code for $5 off your first coffee purchase- BLOGME5
PC and Android Protection
Motivational Quotes:
Thousands of Professional Bloggers for Your Online Business
Dear Advertisers,
thousands of professional Bloggers around the world listed at Blogsvertise are ready to help increasing your online sales. CLICK HERE OR click Blogsvertise banners below to advertise with them: